![]() |
| Gambar. Ilsutrasi, Masjid Balee Manyang Masjid dan Tempat Ibadah Pertama di Simeulue |
SIMEULUE – Sejarah masuknya Islam ke Simeulue tidak dapat dipisahkan dari kisah Tengku Khalilullah dan Putri Meulue, dua tokoh yang dalam berbagai sumber sejarah dan tradisi lisan masyarakat Simeulue memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di pulau tersebut. Tengku Khalilullah dan Putri Meulue mendirikan sebuah tempat ibadah yang dikenal sebagai Masjid Balee Manyang. Masjid tersebut sebagai masjid pertama yang dibangun di Simeulue dan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan Islam di Pulau Simeulue.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari sejarawan Simeulue, pembangunan Masjid Balee Manyang diperkirakan berlangsung pada bulan Ramadan tahun 1617 Masehi. Sejak saat itu, masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga menjadi pusat pengajaran agama Islam dan tempat berkumpulnya masyarakat.
Kisah awal penyebaran Islam di Simeulue berkaitan erat dengan kedatangan Tengku Khalilullah bersama Putri Meulue. Pada masa awal, penyebaran agama Islam dilakukan secara bertahap melalui pendekatan kepada masyarakat. Syiar Islam pada awalnya dilakukan secara sederhana dan dari rumah ke rumah. Tengku Khalilullah dan Putri Meulue memberikan pemahaman keagamaan kepada masyarakat serta mengajarkan dasar-dasar ajaran Islam. Seiring waktu, jumlah masyarakat yang menerima Islam semakin bertambah. Kondisi tersebut kemudian mendorong dibangunnya sebuah tempat ibadah yang dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Balee Manyang.
Keberadaan dan pembangunan masjid pada masa awal perkembangan Islam di Simeulue juga memiliki keterkaitan dengan catatan kolonial Belanda. Dalam catatan H.T. Damsté, terdapat kisah mengenai perintah Sultan Aceh kepada Tuan Diujoeng untuk membawa sebuah tiang ke Teluk Simoeloel dan mendirikan masjid. Setelah masjid selesai dibangun, diperintahkan pula untuk menegakkan agama dan adat di negeri tersebut.
Dalam catatan berbahasa Belanda tersebut disebutkan:
“Hier is een paal. Breng die naar de baai van Simoeloel. Maak na aankomst daar een moskee.”
Kalimat tersebut secara umum bermakna:
“Ini sebuah tiang. Bawalah ke Teluk Simeulue. Setelah tiba di sana, dirikanlah sebuah masjid.”
Catatan tersebut juga menyebutkan bahwa setelah masjid selesai, kemudian diangkat imam, khatib, dan bilal sebagai pemimpin umat. Hal ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya diposisikan sebagai bangunan tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat.
Masjid Balee Manyang berada di wilayah yang dalam sumber lama disebut Sifoede, yang saat ini dikenal sebagai kawasan Kampung Sibobeh, wilayah Desa Amarabu, Kecamatan Simeulue Cut, dan berada di sekitar perbatasan dengan Desa Latak Ayah serta Desa Kuta Padang. Bangunan awal Masjid Balee Manyang memiliki ukuran sekitar 9 meter panjang dan 5 meter lebar. Bangunannya menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan masyarakat Simeulue pada masa itu. Atap masjid menggunakan daun rumbia, sementara bagian bangunan memanfaatkan kayu dan bambu.
Kayu tauhaw, yang merujuk pada jenis pohon resak atau Vatica, digunakan sebagai salah satu material penting. Sementara itu, bambu yang telah dibelah atau dipaluku digunakan sebagai bagian dari dinding dan lantai bangunan. Kesederhanaan bahan yang digunakan tidak mengurangi nilai penting bangunan tersebut. Justru penggunaan bahan lokal memperlihatkan kemampuan masyarakat Simeulue dalam membangun tempat ibadah dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Nama Balee Manyang juga memiliki makna yang lebih luas. Dalam tradisi masyarakat Aceh, istilah balee berkaitan dengan balai atau tempat berkumpul dan beristirahat. Konsep tersebut kemudian menjadi bagian dari fungsi Balee Manyang. Masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi tempat masyarakat berkumpul, belajar agama, beristirahat bagi orang yang melakukan perjalanan, serta membicarakan berbagai persoalan kehidupan masyarakat.
Karena itu, keberadaan Masjid Balee Manyang dapat dilihat sebagai bagian penting dari perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Simeulue pada masa awal masuknya Islam. Masjid tersebut menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran agama, mulai dari pengenalan dasar-dasar Islam hingga pembelajaran keagamaan yang lebih mendalam.
Perkembangan Islam di Simeulue semakin mendapat momentum setelah Raja Songsong Bulu menerima Islam. Menurut keterangan sejarawan Simeulue Salfiadis, Raja Songsong Bulu yang pada awalnya menentang kedatangan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue kemudian menerima ajaran Islam dan mengucapkan syahadat. Setelah memeluk Islam, Raja Songsong Bulu turut membantu penyebaran Islam dengan mengajak masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya untuk mengikuti ajaran yang disampaikan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan Islam di Simeulue. Dukungan dari tokoh penguasa membuat penyebaran agama Islam dapat dilakukan secara lebih terbuka dan luas.
Pada masa awal, dakwah Islam dilakukan secara bertahap. Tengku Khalilullah dan Putri Meulue mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran Islam secara langsung. Setelah Masjid Balee Manyang berdiri, kegiatan keagamaan memiliki tempat yang lebih terorganisasi. Masjid menjadi pusat salat berjamaah, pembelajaran agama, dakwah, serta pertemuan masyarakat. Dari tempat inilah kehidupan keagamaan masyarakat Simeulue berkembang secara perlahan.
Kehadiran masjid juga menjadi bagian dari proses perubahan sosial masyarakat. Ajaran Islam mulai diperkenalkan secara lebih luas dan diterima secara bertahap oleh berbagai kelompok masyarakat. Meskipun pada awalnya terdapat kepala suku dan sebagian masyarakat yang masih mempertahankan kepercayaan serta ritual lama, pendekatan yang dilakukan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue secara perlahan membuat masyarakat semakin menerima ajaran Islam.
Berdirinya Masjid Balee Manyang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam di Simeulue. Dari tempat ibadah sederhana yang menggunakan daun rumbia, bambu, dan kayu lokal tersebut, kegiatan keagamaan masyarakat mulai berkembang. Masjid menjadi tempat masyarakat belajar mengenal Islam sekaligus menjadi ruang pertemuan dan interaksi sosial. Karena itu, sejarah Masjid Balee Manyang tidak hanya berbicara tentang sebuah bangunan tua, tetapi juga tentang awal terbentuknya kehidupan keagamaan masyarakat Simeulue. Masjid tersebut menjadi simbol bagaimana Islam mulai berakar di Pulau Simeulue melalui dakwah, pendidikan, hubungan kekeluargaan, serta pendekatan kepada masyarakat dan pemimpin lokal.
Keberadaan Masjid Balee Manyang memiliki nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan Simeulue. Bangunan dengan material lokal seperti rumbia, bambu, dan kayu tauhaw menggambarkan keterampilan masyarakat pada masa lalu dalam membangun tempat ibadah sesuai dengan kondisi lingkungan mereka. Di sisi lain, sejarah Balee Manyang memperlihatkan hubungan yang erat antara agama, adat, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat Simeulue.
Catatan Belanda tentang pembangunan masjid, tradisi lisan masyarakat, keterangan sejarawan lokal, serta jejak sejarah di wilayah Simeulue menjadi bagian penting yang perlu terus dikaji dan didokumentasikan. Dengan demikian, Masjid Balee Manyang bukan hanya penting sebagai masjid pertama yang dibangun di Simeulue, tetapi juga sebagai salah satu simbol awal perkembangan Islam di pulau yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya tersebut.

إرسال تعليق